LATAR BELAKANG MUNCULNYA ALIRAN MATURIDIYAH
Sezaman dengan aliran Asy'Ariyah, di Samarkand lahir pula aliran Maturidiyah, yang juga bertujuan menghadang dan menentang aliran Mu'tazilah. Aliran Maturidiyah didirikan oleh Imam Abu Mansur al-Maturidi, atau nama lengkapnya adalah Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi As-Samarqandi Al-Hanafi (wafat 333 H/ 944 M). Imam Al-Maturidi dilahirkan di Maturid, sebuah pemukimam di Kota Samarkand yang terletak di seberang sungai.
Aliran Maturidiyah adalah aliran teologi yang termasuk golongan Ahlussunnah wal Jama'ah yang banyak dianut oleh umat Islam yang bermazhab Hanafi. Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa karya Al-Maturidi serta situasi dan kondisi masyarakat pada masanya, maka dapat dikemukanan factor-faktor yang melatarbelakangi munculnya pemikiran teologinya yang pada perkembangan berikutnya melahirkan aliran Maturidiyah, yaitu :
- Ketidakpuasan terhadap konsep teologi Mu'tazilah yang terlalu berlebihan dalam memberikan otoritas pada akal. Hal ini dapat dilihat dari beberapa judul tulisannya yang secara eksplisit menggambarkan penolakannya terhadap Mu'tazilah, serperti Kitab Radd Awa'il al-Adillah li al-Ka'bi, Kitab Radd Tahdhib al-Jadal li Al-Ka'bi dan Kitab Bayan Wahm al-Mu'tazilah. Dan pada saat yang sama Al-Maturidi juga tidak puas atas konsep teologi ulama salaf yang mengabaikan penggunaan akal.
- Kekhawatiran atas meluasnya ajaran Syi'ah terutama aliran Qaramithah yang dengan keras menentang ulama-ulama salaf. Khusus di wilayah Asia Tengah aliran ini banyak dipengaruhi oleh paham Mazdakism, sebuah aliran komunis yang dicetuskan oleh Mazdak bin Bambadh seorang reformis militant pada abad ke-5 M pada masa kekuasaan Sasania. Ajaran aliran ini terkait dengan Manicahesim sebuah ajaran yang merupakan percampuran antara ajaran Kristen dengan Zoroaster dan ajaran-ajaran Budha. Kitab al-Radd ala Qaramitah yang di tulis oleh Al-Maturidi merupakan suatu indikasi akan kekhawatirannya atas pengaruh ajaran ini pada masyarakat.
Terdorong oleh kedua factor tersebut, Al-Maturidi kemudian bangkit dan mengembangkan metode sintesis al-Naql dan Al-Aql dalam pemikiran kalam, jalan tengan antara aliran rasional ala Mu'tazilah dan aliran tradisional ala Hambali. Secara metodologis, Al-Maturidi lebih banyak memfungsikan akal disbanding Al-Asy'Ari, sehingga Sebagian para ahli lazim memandang Asy'Ariyah sebagai aliran yang mengambil jalan tengah antara Mu'tazilah dan ahl al-hadist, sedangkan Maturidiyah mengambil jalan tengah antara Asy'Ariyah dan Mu'tazilah. Misalnya, baik dan buruk dapat diketahui melalui akal meski tak ada wahyu, karena baik dan buruk dinilai berdasarkan substansinya, demikian menurut Al-Maturidi. Sedangkan menurut Al-Asy'ari, baik dan buru dinilai menurut Syara'.
Pemikiran kalam Al-Maturudi lebih banyak menggunakan akal dibandingkan Asy'Ari tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya sebagai berikut :
- Al-Maturidi adalah penganut mazhab Hanafi, suatu mazhab yang dikenal sebagai aliran rasional di bidang fikih. Ditambah lagi dengan latar belakang Pendidikan Al-Maturidi di bawah asuhan 4 ulama terkemuka pada masanya yang juga tokoh-tokoh Hanafiyah. Dengan demikian, pengaruh pemikiran Hanafi tentu cukup "kental" pada diri Al-Maturidi, bukan hanya di bidang fikih, tapi juga dalam bidang Kalam.
- Situasi dan kondisi masyarakat di daerah kediaman al-Maturidi (Samarkand) dan Asia Tengah pada umumnya, cukup heterogen dari segi etnis, agama dan aliran teologi. Di samping itu diskusi antar aliran teologi dan fikih sudah merupakan tradisi diĀ kalangan ulama Samarkand. Oleh karena itu, Al-Maturidi telah akrab dengan penggunaan argument-argumen rasional, apalagi dalam menghadapi tokoh-tokoh Mu'tazilah seperti Al-Ka'bi yang ahli dalam filsafat.